Jilbab - Antara Pilihan, Kesiapan, & Keberanian

Selasa, 15 Maret 2011 - Diposting oleh Ochadon di 07.53
Jilbab. Kata yang sering kita dengar, benda yang sering kita lihat bahkan memakainya. Tapi apakah definisi atau pengertian jilbab itu sendiri saya juga belum memahaminya. Bagi masyarakat Indonesia, jilbab umumnya diartikan sebagai selendang yang menutupi kepala hingga ke leher dan dada. Namun saya juga pernah mendapati pengertian kata jilbab dalam kamus entah itu apa namanya saya lupa, yaitu disebutkan bahwa jilbab adalah pakaian yang luas untuk wanita yang dapat menutupi seluruh tubuh atau pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian rumah seperti mantel.
Nah tapi bukan tentang pengertian jilbab dll yang akan saya post disini.
Yah, saat ini saya seorang mahasiswi tingkat dua di sebuah perguruan tinggi negeri Islam di Yogyakarta. Secara dari judulnya saja, sudah pasti semua mahasiswinya dijawibkan untuk memakai jilbab ketika kuliah. Walaupun jujur sebenarnya saya juga tidak pernah membaca ada aturan tertulis tentang kewajiban untuk memakai jilbab bagi mahasiswi (ato mungkin sayanya yang ngga baca?haha). Peraturan yang pernah saya baca hanya "semua mahasiswa diwajibkan untuk berpakaian sopan dan rapi, dan tidak diperbolehkan memakai sandal ketika kuliah".
Tapi sebagai seorang mahasiswa saya juga harusa tahu diri dan bisa menempatkan diri dimana saya berada. Karena saya kuliah diperguruan tinggi islam dan semua orang memakai jilbab, maka saya juga memakai jilbab. So, inti dari kalimat tersebut adalah "saya berjilbab karena kuliah". Ya memang begitu adanya. Saya terlahir dari orang tua yang menganut agama islam dan berarti saya juga seorang muslim. Ibu saya berjilbab (belum begitu lama juga), tante, budhe, kakak sepupu saya juga mayoritas memakai jilbab. Jadi mungkin dari seluruh keluarga besar pihak ibu, hanya saya yang tidak berjilbab. Tentu ada alasan atas keputusan saya ini.
Tante saya sering bilang kepada saya, "berjilbablah, perempuan yang sudah baligh itu diwajibkan untuk menutup aurat". Bahkan hampir setiap bertemu dengannya saya selalu mendengar kalimat itu. Lain halnya dengan ibu saya, karena ibu saya tidak pernah menuntut saya untuk berjilbab yang penting tetap berpakaian sopan. Lalu apakah alasan saya mengapa saya tidak berjilbab?
Sebagai seorang muslim yang sudah baligh mungkin memang seharusnya saya sudah berjilbab. Namun memang sampai saat ini saya belum mendapatkan ilham atau istilahnya "ngeh/ srek" untuk berjilbab. Bagi saya, jilbab itu sakral dan berat, bukan hanya sekedar "alat" atau "benda" namun juga perilaku seseorang yang memakainya. Sederhananya orang yang memakai jilbab tentu semua tingkah lakunya tersorot oleh orang lain dan mereka dituntut harus menjaga sikap dan perbuatan (sebenernya orang yang berjilbab pun juga gitu sih) sehingga tidak menimbulkan maksiat misalnya "itu pake jilbab tapi kok gitu sih?". Nah secara batiniah, saya benar-benar belum siap kalau suatu saat nanti saya harus mendengar kalimat tersebut, atau mungkin saya terlalu takut dengan kalimat itu. Tapi bukan berarti juga tingkah laku saya ngga bener juga, hanya masalah kesiapan saja. Setiap orang kan berbeda, baik watak, prinsip, dan juga mental. Secara mental mungkin saya siap, namun secara prinsip saya belum siap karna bagi saya, prinsip itu menyangkut siapa kita, seperti apa kita, dan kita adalah sopir bagi diri kita sendiri. Jadi singkatnya, saya belum siap untuk berjilbab.
Kemudian masalah study saya yang mengharuskan saya untuk berjilbab. Mungkin hampir puluhan kali saya mendengar kalimat ini : "kuliah dimana mbak?" saya : "di UIN", "loh, kok ngga pake jilbab?". Setiap kali saya mengulang moment-moment seperti ini, pengeeeeeeeen sekali rasanya saya teriak keras-keras ditelinga orang itu bahwa "SAYA BUKAN 'UIN', SAYA ADALAH DIRI SAYA". Tapi mungkin terlalu naif juga kalau saya melakukan hal itu. Ok fine, saya mengerti. Saya mahasiswa uin dan saya harus membawa nama baik almamater saya. Tapi tidak dengan menjadi orang lain dan meninggalkan diri saya sendiri.
Nah, masalah terakhir, seringkali saya share dengan teman-teman saya "apakah saya terlalu egois atau idealis?". Banyak dari mereka yang kemudian memberi komentar, "kenapa tidak dicoba? Bukan soal siap atau ngga siap, tapi soal berani atau ngga berani?". Ok, saya sejenak terdiam mendengar kalimat itu. Simple tapi nusuk banget. Jadi kesimpulannya, saya belum berani melawan ke-idealis-an saya, "belum" bukan berarti tidak. So, mungkin memang saat ini saya belum siap tapi siapa tau suatu saat nanti saya akan benar-benar siap. Tapi yang jelas, saya tidak pernah munafik untuk mengakui, saya berjilbab karena kuliah bukan karena saya ingin berjilbab.
Berkali-kali saya mengungkapkan bahwa hidup itu pilihan, dan untuk saat ini, iniliah pilihan saya.
Reaksi: